Kurikulum Koperasi Diperkuat untuk Mendorong Koperasi Mahasiswa Jadi Inkubator Wirausaha
SUMEDANG – Kurikulum Mata Kuliah Koperasi di perguruan tinggi terus diarahkan untuk memperkuat posisi koperasi mahasiswa sebagai inkubator kewirausahaan, sekaligus mendorong lahirnya koperasi modern yang berbasis digital dan berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Purwanto, M.Si dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Asosiasi Dosen Ekonomi dan Manajemen Indonesia (ADEKMI) bekerja sama dengan Forum Koperasi Indonesia (Forkopi) dan Ikopin University, Kamis (8/1/2026).
Dalam pemaparannya, Prof. Purwanto menegaskan bahwa pengembangan kurikulum koperasi merupakan bagian dari implementasi Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden, khususnya dalam penguatan ideologi Pancasila, pengembangan kewirausahaan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Ia menekankan bahwa koperasi mahasiswa memiliki peran strategis sebagai wadah pembelajaran sekaligus inkubasi wirausaha bagi generasi muda.
“Koperasi mahasiswa harus ditempatkan sebagai inkubator wirausaha,” ujar Prof. Purwanto.
Ia juga mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 526 koperasi mahasiswa di Indonesia. Namun, sebagian besar unit usahanya masih didominasi oleh layanan konvensional, seperti fotokopi, toko ritel, percetakan, kantin, penjualan tiket, hingga merchandise kampus. Kondisi tersebut dinilai perlu ditransformasikan agar koperasi mahasiswa mampu berkembang ke arah usaha pencipta lapangan kerja, usaha berbasis inovasi, serta bisnis digital.
Dalam konteks pengembangan koperasi modern, kurikulum mata kuliah koperasi dirancang dengan pendekatan teknologi dan kewirausahaan. Prof. Purwanto menyebutkan tiga pilar utama yang menjadi fondasi pengembangan koperasi digital, yakni Platform Cooperative (koperasi berbasis platform digital), tata kelola modern yang didukung teknologi blockchain, serta penguatan peran koperasi dalam agregasi UMKM.
Selain transformasi digital, Prof. Purwanto juga menekankan pentingnya pengembangan koperasi hijau. Menurutnya, koperasi hijau mencakup dimensi lingkungan, sosial, dan tata kelola yang berkelanjutan. Tahapan pengembangannya dimulai dari pemenuhan prinsip-prinsip dasar koperasi, dilanjutkan dengan perencanaan ESG dan GEDSI dalam aktivitas koperasi, hingga implementasi ESG dan GEDSI secara menyeluruh.
Ia menjelaskan bahwa ESG mencakup aspek Environmental, Social, dan Governance, sementara GEDSI meliputi Gender Equality, Disability, and Social Inclusion. Meski mengadopsi pendekatan modern, nilai-nilai dasar koperasi seperti keanggotaan sukarela dan terbuka, pengelolaan demokratis, partisipasi ekonomi anggota, serta kepedulian terhadap komunitas tetap menjadi landasan utama.
Dalam aspek pembelajaran, kurikulum mata kuliah koperasi dirancang dengan komposisi 60 persen teori dan 40 persen praktik. Model pembelajaran ini diperkuat melalui program magang industri, proyek akademik berbasis kebutuhan industri, metode co-teaching, serta keterlibatan dewan penasihat dari kalangan praktisi.
FGD nasional ini menjadi forum strategis untuk membahas penguatan kurikulum mata kuliah koperasi agar semakin relevan dengan tantangan digitalisasi, kewirausahaan, dan pembangunan berkelanjutan. Kegiatan ini sekaligus menegaskan posisi koperasi mahasiswa sebagai instrumen penting dalam mencetak wirausaha muda yang berlandaskan nilai kebersamaan dan ekonomi gotong royong.
FGD tersebut menghadirkan sejumlah akademisi dan praktisi, di antaranya Rektor Ikopin University Prof. Agus Pakpahan, M.S., Ph.D sebagai keynote speaker, serta Prof. Dr. Purwanto, M.Si, Prof. Dr. Muhammad Asdar, Prof. Dr. Sugiyanto, dan Prof. Ahmad Subagyo.
